Saat kamu membaca surat ini, aku pasti sedang di pinggir danau, duduk di sebuah batu besar dengan leher berlilitkan syal ungu (kamu yang memberinya dulu, tanggal 12 Februari. Kamu masih ingat?), seraya menggosok-gosok perut dengan minyak kayu putih cap Ayam (entahlah, penyakit perutku yang tak tahan dingin ini rasanya tak bakal sembuh lagi). Jika kamu bertanya mengapa aku disini sekarang, dikelilingi sunyi dan diserbu dingin, tolong carikan jawabannya dan berikan padaku. Karena aku juga tidak tahu kenapa kakiku harus melangkah menuju danau ini. Atau mungkin karena sepi dan beku di sini seakan partner yang baik bagi hatiku. Yang juga sepi dan beku.
Hasian...
Setelah sekian lama, harus kuakui juga bahwa kakiku lelah mengambang di udara. Aku butuh tanah yang padat, untuk menjejakkan kaki-kaki lelahku.
Ingatkah kamu?
Aku pernah berkata padamu bahwa cinta tidak pernah salah memilih, maka dia memilihmu. Sampai detik ini, aku tetap meyakini itu. Cinta memang tak pernah salah memilih. Hanya saja aku salah karena aku menerima pilihan itu. Bukankah jika ada pilihan, seharusnya kita bisa memilih? Menerima atau menolak. Harusnya aku menolak mencintaimu saat itu.
Hasian...
Sebelum kututup sebuah buku berjudul namamu, kuingin kau tahu betapa susah aku melupakanmu. Bahkan hanya untuk berencana melupakanmu saja, susahnya mati-matian. Kamu pernah membuatku tertawa, tergelak, dan meloncat kegirangan. Diwaktu lain kamu juga pernah membuatku tersenyum diam-diam, dengan pipi merona mata mengerjap. Dan ada juga saatnya kamu membuatku merasa seperti bunga tulip yang tiba-tiba saja bisa tumbuh di taman bunga Berastagi. Istimewa karna aku bisa tumbuh ditempat yang tidak semestinya.
Aku mencintaimu dengan keterlaluan, membiarkanmu merasuki setiap mimpi dan impianku tanpa filter sama sekali. Aku tenggelam. Tapi anehnya aku menikmatinya, menikmati keadaan saat tenggelam dalam rasa cinta untukmu. Cinta padamu selalu terasa gurih, hangat, dan nikmat.
Lalu kenapa aku harus melupakanmu?
Entahlah, Hasian.
Ada pepatah mengatakan cinta itu seperti memberi tak harap kembali. Nyatanya aku mengharap kembali. Apakah ini bukan cinta?
Kutatap fotomu dengan sendu yang membisu. Ingatlah ucapanku ini. Aku pernah menganggapmu sebagai keajaiban. Kau pernah menganggapku sebagai keindahan. Kenanglah aku dalam nada yang ceriah, kan kukenang kamu dalam segala kebaikan. Kelak, bila kita bertemu, kamu akan tersenyum dan menjabat tanganku dan aku akan berkata, "Hai, apa kabar?," tanpa kata "hasian".
Jkt, 21/01/10 00:46 wib
(surat pertama)
Mengenai Saya
Kamis, 21 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Pertemuan dikemudian hari tanpa kata hasian adalah satu bentuk dilema yang nantinya akan kalian rasakan akibat kenangan yang tak segampang melepas pasir dari dalam genggaman,kata manis diantara hasian itu dan arungnya cinta itu teramatlah dalam....rasakan perihnya nanti.....kwek.kwek.kwek..hah...........
BalasHapus