Powered By Blogger

Rabu, 03 Februari 2010

DALAM HUJAN KUJATUH CINTA

Pukul satu dini hari.

Aku duduk di depan komputer dengan kedua tangan menopang pipiku. Tidak melakukan suatu apapun. Aku hanya duduk dan memandangi komputer yang tidak sedang menyala. Di luar masih terdengar tetes-tetes air hujan yang semakin lama semakin jarang

Tiba-tiba saja aku takut kehilangan tetes-tetes hujan itu. Segera kubuka jendela kamar dan hawa dingin segera menyergap wajahku. Kuamati tetes-tetes hujan yang jatuh ke tanah yang sudah tergenang. Satu…dua…tiga…empat…ada 24 kali tetes hujan jatuh dalam satu menit yang kemudian bergabung dalam genangan air di tanah. Dan mungkin dalam setengah jam ke depan, tak akan ada lagi tetes hujan.

Ahh, aku mendesah. Aku sangat mencintai hujan dan selalu berharap hujan. Aku menikmati setiap panah-panah hujan membasahi sekujur tubuhku, menikmati suasana diam yang ditimbulkan hujan, dan menunggu dingin yang menyertainya. Dan utamanya, aku merindukan hujan karena dia selalu mengingatkanku pada dirimu.

Ingatkah kamu saat pertama kali menemukanku?
Waktu itu aku tengah berjalan di dalam hujan dengan tubuh basah kuyup. Dengan kedua tangan lenyap di saku jeans, aku berjalan dan terus berjalan (tapi menurutmu, waktu itu aku tengah berlari). Tak kusadari ketika akan berteduh di sebuah halte, kamu sudah ada di sampingku. Kamu melihatku dan aku melihatmu.

“Hai.”

Aku tak bereaksi. Sore berisi hujan dan petir bukan waktu yang manis untuk berkenalan ataupun untuk sekedar ber "hai-hai”. Aku mendongak ke langit, mencoba memprakirakan cuaca dalam sepuluh menit ke depan.

“Mungkin setengah jam lagi hujan akan reda, tapi tidak dalam 10 menit”, kamu kembali mengoceh.

Aku tak juga bereaksi. Kalimat permulaan yang menurut wanita-wanita lain ‘so sweet’ justru terdengar hambar di telingaku.
Tubuhku mulai menggigil. Kukeluarkan kedua tangan dari saku jeans dan mengosok-gosok kedua telapak tangan. Gesekan-gesekan dua permukaan akan menimbulkan panas, itu yang pernah kupelajari saat belajar Fisika dulu.

“Akan lebih dingin bila kita diam di tempat yang kering dalam keadaan basah daripada kita berada di dalam tempat yang basah dan dalam keadaan basah.”

Siall! Emosiku mendadak bangun, siap berperang.

“Hei, kamu pernah belajar etika? Kalau orang tidak menyahutimu, artinya orang itu terganggu dengan kehadiranmu. Jadi, hargai kenyamanan orang lain,” suaraku seakan menyaingi suara hujan yang diikuti petir.

“Sampai hari ini aku masih belajar etika kog. Kalau orang menyapa kamu, suka atau tidak, berusahalah untuk membalasnya seramah mungkin’,” suaramu terdengar tenang, sama seperti tadi.

Aku tercekat. Otakku sudah hendak bekerja keras mencari kalimat pembenaran tapi aku tengah malas melakukannya. Peduli apa aku sama kamu?

“Baik. Aku tidak punya etika. So what??” tantangku sambil berkacak pinggang.

Kamu tidak berkata apa-apa kecuali menatapiku. Tatapan yang sampai detik ini tak pernah bisa kulupakan. Di tengah derasnya hujan, petir yang mengagetkan, dingin yang menusuk ke tulang-tulang, tatapanmu menyampaikan aroma yang lain, aroma yang hangat dan teduh.
Aku termangu, seakan sedang menunggu gerakan apa yang terjadi di bola matamu berikutnya.

"‘Kamu tengah menangis. Dan kamu menyamarkannya dengan berhujan-hujan," ucapmu tenang.

Mulutku mengangga. Perasaan terpesona akan ucapanmu sejenak menyesatkanku. Tapi detik berikutnya, aku disadarkan oleh perasaan terpidana dan aku amat membencinya. Kugerak-gerakkaan mulutku sekedar upaya untuk menahan jatuhnya air mata dan ketika air mataku luruh juga aku berkata,

“Seharusnya kamu tak usah belajar etika bila hanya ingin mencampuri urusan orang,” dan akupun berlari menerobos hujan.

******
Hari-hari sesudahnya menjadi hari yang aneh bagiku. Aku selalu mengingat tatapanmu. Dan lebih aneh lagi karena aku bahkan tidak memperhatikan raut wajahmu kala itu. Aku hanya terfokus pada mata yang teduh tanpa memperhatikan apakah wajahmu terdiri dari satu hidung atau malah dua.

Jika hujan mulai turun, ada dorongan yang sangat kuat untuk datang ke tempat itu dan berharap bertemu denganmu di halte itu. Tapi pernyataanmu yang menelanjangiku sungguh membuatku terluka. Siapapun kamu, harusnya tak perlu menyudutkanku seperti itu. Setidaknya kamu perlu menghargai usahaku dalam menyembunyikan air mata.

Tapi kenapa kamu bisa tahu? Bukankah air mata dan air hujan sama-sama berwarna bening? Bilapun air mataku terasa asin dan air hujan terasa tawar, toh kamu tidak merasainya bukan? Heii, hatiku berteriak. Aku harus bertemu denganmu lagi. Aku harus menanyakan hal itu.

Segera kuraih sweater biru, memakainya tergesa-gesa dan berjalan dalam hujan. Kali ini tak ada suara petir dan warna langit cukup cerah untuk ukuran “sedang hujan”. Aku berjalan dan membiarkan hujan membasahi rambutku. Sekelebat bayangan melintas di otakku dan efeknya sangat fatal. Air mataku tumpah dan air hujan segera menyamarkannya. Aku semakin cepat berjalan dan bayangan itu seakan menguntitku dari belakang. Bayangan sesosok wajah di masa lalu yang seakan tak pernah lelah melukaiku.

Aku berlari ke halte itu. Hanya ada lima atau enam orang di sana menunggu hujan reda dengan wajah-wajah penuh ketidaksabaran, Mataku menyapu mereka satu persatu tapi tatapan itu tak kutemukan. Putus asa, aku duduk di bangku besi. Kutarik topi sweaterku yang basah dan segera menutupi kepalaku. Untuk mengurangi rasa dingin, kulipat kedua tangan dan menekan dadaku kuat-kuat. Seiring itu, tiba-tiba saja aku menangis. Aku tidak tahu mengapa. Aku hanya merasakan kesakitan bergumul dengan kelelahan dalam bathinku. Apa yang sebenarnya kulakukan? Sampai kapan aku harus berjalan-jalan di dalam hujan? Dan untuk apa aku di sini? Untuk apa aku ingin bertemu dengan orang yang bahkan namanya saja aku tak tahu? Hanya untuk sebuah tatapan? Begitu berhargakah sebuah tatapan bagiku? Bukankah aku justru dihancurkan oleh seseorang yang tatapan matanya dulu sangat kukagumi?

Hiks, tiba-tiba aku sesunggukan. Kuangkat kedua kaki ke atas bangku besi dan segera menekuk lututku. Kugosok-gosokkan ujung hidungku dengan punggung tangan tanpa henti. Begitulah selalu caraku menghentikan tangis. Tiba-tiba kurasakan ada sentuhan hati-hati di pundakku. Refleks aku menoleh dan kulihat kamu sudah ada di sampingku.

Kamu melihatku dan aku melihatmu.

“Hai,” kini aku yang menyapa.

Kamu tidak bereaksi. Tadinya kupikir kamu akan memperlihatkan ekspressi senang dan segera mengajakku berkenalan. Tapi kamu hanya terdiam dan menatapiku. Tatapan yang selalu kuingat beberapa hari sebelumnya kembali membuatku terpana.

“Hai,’ kuulangi lagi.

“Bila orang menyapamu, suka atau tidak, berusahalah untuk membalasnya seramah mungkin,” ucapku menyontek bulat-bulat kalimatmu tempo hari.

Lagi-lagi kamu hanya menatapiku.

“Kemarilah,” kamu mengulurkan tangan ke arahku.

Aku segera berdiri tapi tak menerima uluran tanganmu. Lalu kamu berjalan menembus hujan dan aku mengikutimu. Dengan tangan sama-sama lenyap di saku celana, kita berjalan santai dalam hujan. Membiarkan air hujan kembali membasahi baju kita dan kemudian merembes masuk menyentuh kulit. Langkah-langkahmu yang panjang membuatku harus berlari-lari kecil untuk bisa mengimbangi.

“Kamu mau ajak aku kemana?” kutarik topi sweater ke arah belakang dan seketika hujan menyerbu ubun-ubunku.

“Aku tidak sedang mengajakmu. Aku hanya ingin menemanimu.”

“Menemaniku? Menemaniku berhujan-hujan?”

“Iya. Menemanimu berjalan di dalam hujan. Bukankah kamu selalu melakukannya setiap hujan?

“Darimana kamu tahu?”

‘Karena aku melihatmu.”

“Kenapa bisa melihatku?”

“Karna kamu bukan hantu.”

“Ka..”

Ucapanku terpotong ketika tiba-tiba kamu merengkuhku. Aneh bin ajaib. Seseorang yang baru kukenal berani-beraninya merengkuhku. Dan lebih ajaib lagi, karena aku tidak menolak. Sepuluh detik kemudian aku tersadar dan segera menarik tubuhku, lalu mundur beberapa senti. Kita saling berpandangan, seolah tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Lalu kamu melebarkan kedua tangan seraya mengangkat bahu.

“Maaf, aku…aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.”

Sementara aku kembali ke kebiasaanku, diam dengan mulut menganga.

“Ayo, kita berjalan lagi. Mumpung hujan belum reda. Tak usah berpikir kita hendak kemana. Ikuti saja kaki melangkah. Dan kamu nanti akan lihat kalau kita pasti tidak salah arah."

Tanpa menunggu jawabanku, kamu sudah berjalan lagi sehingga aku terpaksa mengikuti dari belakang. Lalu kita berjalan sambil menikmati hujan. Sekali-sekali kakimu menendang genangan air hingga cipratannya mengenaiku. Aku balas menendang tapi cipratannya tak cukup jauh untuk bisa mengenaimu. Langkah-langkahmu yang panjang ternyata tetap juga tak bisa kuimbangi meski harus berlari-lari kecil. Lalu kubiarkan aku tertinggal di belakang. Setelah jauh di depan, kamu menoleh ke belakang dan pura-pura tersadar bahwa aku tertinggal jauh. Kamu tertawa dan berbalik menjemputku. Kemudian kita sama-sama tertawa dan berjalan lagi. Air hujan diam-diam memberi kehangatan dalam jiwa. Kita terus berjalan. Berjalan tanpa bicara. Di persimpangan jalan aku berhenti dan bertanya,

“Kamu tidak mau bertanya sesuatu padaku?”

“Tidak,” jawabmu datar.

“Kenapa?"

“Matamu sudah bercerita banyak.”

Kembali mulutku menganga. Dengan mata terpaku ke arahmu.

“Sayang sekali gadis semanis kamu suka mengangakan mulut seperti orang idiot,” ucapmu cuek dan berjalan meninggalkanku.

Aku berlari mengejar dan berniat memberimu bogem mentah atas penghinaanmu barusan, tapi tak jadi karena secepat kilat kamu keluarkan tangan kanan dan memberiku lambang “peace” dengan jari tangan.
Dan persis ketika hujan reda, kita sampai di depan rumahku. Dugaanmu tepat, kita tidak salah arah.

“Ini rumahmu?” tanyamu.

“Iya. Tapi kamu tak boleh masuk.”

“He he. Aku juga sedang tidak ingin bertamu”

Aku tersenyum mendengar jawabanmu.

“Ya sudah. Aku mau masuk.”

“Silahkan.”

Lalu aku berbalik hendak membuka pintu dan,

“Kamu tidak ingin tahu namaku?” suaramu terdengar ragu.

Kubalikkan tubuh.

“Upss, hujan membuat kita lupa berkenalan, “ sahutku.

Segera kamu maju dan mengulurkan tangan.

"Leon."

Kujabat tanganmu yang basah seraya menyebutkan namaku.

“Mio”

Tiba-tiba kamu menarik tangan dan mengangakan mulut meniru kebiasaanku.

“Kenapa?” tanyaku kebingungan.

“Kog merek motor matic.”

Spontan aku bergerak maju ingin memukulmu tapi kamu sudah lebih dulu lari menghilang di kegelapan.
Kubuka pintu rumah dan bergegas masuk. Tak kusadari sebuah nama berbunyi Leon diam-diam ikut masuk bersamaku.

******
Kemudian tanpa kutahu bagaimana, kita sudah menjadi sangat dekat. Setiap kita punya waktu, kita selalu duduk di halte itu, menghabiskan sore bila hujan tak juga turun. Sebaliknya, bila hujan turun kita akan kegirangan dan bersama berjalan di dalam hujan. Kadang kita pergi ke taman dan di sana kamu membiarkanku menari di dalam hujan, berputar-putar seperti anak kecil. Dan kamu biasanya duduk di bangku taman memandangiku. Aku tidak bisa menduga-duga apa yang ada di pikiranmu saat-saat seperti itu. Kamu hanya memandangiku dan bila aku sudah lelah berputar-putar kamu akan menangkap tubuhku dan merengkuhku di bawah hujan. Tidak pernah berkata apapun.

Lama-lama aku menyadari bahwa aku sudah mulai bergantung padamu. Tapi aku tidak juga berusaha menghentikannya. Kebersamaan kita sungguh memberi kenyamanan yang luar biasa bagi diriku. Kita menikmati hari-hari dengan tawa, canda dan senyum tanpa pernah bertanya. Kamu tidak pernah bertanya tentang air mata yang kusamarkan itu dan karenanya aku bersyukur. Menceritakan luka yang sudah lama tersimpan sama saja menyuruhku untuk kembali merasakan sakit yang pernah kurasakan.

Kita semakin dekat dan perasaan aneh bila bersamamu pun mulai kurasakan. Sel-sel tubuhku akan segera kocar kacir bila kamu memelukku di tengah hujan. Bukan hanya kehangatan yang kurasa setiap kali kamu memelukku, tapi sudah setingkat di atas hangat. Aku mulai yakin bahwa aku sudah menginginkanmu lebih dari teman berhujan-hujan. Aku juga yakin kamu merasakan hal yang sama meski kamu tidak pernah mengutarakannya. Kamu tidak pernah bertanya apapun tentangku dan akupun tidak pernah bertanya tentang dirimu. Kita seolah saling mengerti bahwa kita tidak menginginkan pertanyaan-pertanyaan selain kapan hujan turun.

Lalu aku mulai merasakan kegelisahan di tiap malamku. Aku memikirkanmu dan terus memikirkanmu. Aku ingin selalu di dekatmu, merasakan hangat rengkuhmu dan mencium aroma tubuhmu. Malam malam menjadi saat yang paling menyiksa bagiku dan kulewati dengan hati yang sambil merengut berkata “kenapa sih malam tidak terdiri dari 3 jam saja?" Ya ampun, betapa aku membutuhkanmu. Tak kuasa, di suatu malam aku menelponmu.

“Leon”

“Hai Sweetie, kog tumben tengah malam begini meneleponku?”

“He he”

“Kog he he”

“Ho ho”

“Kog ho ho

“Hi hi”

"Kog hi hi"

"Xi xi xi xi xi xi xi"

“ Mamaaaaa. Ada kuntilanak”

“Ha ha ha ha ha ha”

“Wuihh, berisik amat. Ada apa, Mio?”

“Aku kangen”

“Hhmm. So do I”

“Aku memikirkanmu terus”

“Hhmm. So do I”

"Aku ingin bersamamu malam ini

“Hhmm. So do I”

“Aku lagi haid “

“Hhmm. So do I”

“Leonnnnnnnnn”

Dan tombol CANCEL pun kutekan dengan perasaan dongkol. Tak sampai sepuluh detik kamu meneleponku tapi tak mau kujawab. Sifatmu yang suka bercanda kadang keterlaluan dan malam itu aku benar-benar kesal. HP yang terus menerus bernyanyi lama-lama membuatku kupingku sakit hingga kuputuskan untuk menekan tombol OFF.

Aku yakin kamu pasti merasa bersalah dan aku memang sengaja memberimu pelajaran. Biar kamu rasakan resah sepanjang malam. Biar kamu tahu betapa tak enaknya perasaan bersalah itu.

Besoknya kekesalanku masih juga membekas sehingga kuputuskan untuk tidak menghidupkan ponselku. Dan tiba-tiba hujan turun sore harinya. Aku bergegas mengenakan sweater dan menerobos hujan yang barusan turun menciumi bumi. Dan ternyata kamu sudah ada di sana, dengan tatapan penuh kekhawatiran.

“Mio, kamu membuatku gusar semalaman. Kamu masih marah? Sori. Aku kira candaku semalam bisa membuatmu tertawa seperti biasa. Aku baru sadar bahwa kamu sedang serius setelah putusin teleponku. Ada yang ingin kamu bilang? Aku…. Upsss”

Aku segera memelukmu erat-erat sampai tubuhmu oleng ke belakang. Kamu membalas pelukanku dan kita sepertinya menyatu disaksikan panah-panah hujan.

“Kuduga kamu ingin bicara sesuatu, Sweetie. Bicaralah.”

“Aku mencintaimu,”ucapku seraya tengadah menatapmu.

Tiba tiba kurasakan seluruh otot tubuhmu diam dan kaku. Pelukanmu juga seketika melonggar.

“Kamu mencintaiku?” suaraku terdengar sedikit parau.

Meski masih kaku, bisa kurasakan bahwa otot-ototmu mulai berusaha dinamis. Lalu kamu mencium keningku dengan hening.

“Kamu tidak mau menikmati hujan? Ayo, mumpung belum reda. Aku ajak kamu keliling ke…”

“Kamu mencintaiku?” tatapanku membuatmu gusar.

“Mio, aku menyayangimu.”

“Kamu mencintaiku atau tidak?” tatapanku tak juga bergeming.

“Oh, please, jangan tanyakan itu, Mio. Tidakkah kamu bahagia dengan kebersamaan kita? Tidakkah kamu menikmati setiap detik-detik yang kita lalui? Tidak kah semua ini lebih dari kata cinta?”

“Jangan berbelit-belit. Aku hanya ingin kamu jawab ya atau tidak agar aku tahu menata hatiku, “ suaraku mulai terdengar goyah karena mulai ragu akan prediksiku sebelumnya.

“Mio, kamu sangat berharga bagiku dan aku tak mau kehilanganmu. Kamu harus tahu itu.”

“Katakan saja kamu tidak mencintaiku. Aku akan pergi saat ini juga dan tidak akan menyalahkanmu.”


Tiba-tiba saja kamu mendekapku sedemikian erat sampai rasanya aku tak bisa bernafas.

“Mio, jangan pernah pergi dariku”

“Kamu mencintaiku?”

Dan wajahmu pun semakin gelisah menatapku. Sementara aku menanti jawabanmu dengan mulut yang kali ini tidak menganga.

“Aku harus cerita padamu, Mio.”

Kamu meraih tangan kananku dan mengajakku duduk di bangku besi. Hujan nampaknya mulai marah dan angin malah menyukainya. Kita duduk bersisian dan kamu lebih dulu mencium kupingku sebelum bercerita.

“Ray adalah temanku, Mio.”

Seketika mataku membeliak, tak percaya dengan apa yang kudengar barusan.

“Biarkan aku bicara dulu. Nanti kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau,” ucapmu seraya mengedipkan mata mencoba mengajakku bercanda, meski aku tahu kamu tengah gusar luar biasa.

“Aku sudah lama mengenalmu, Mio. Saat kita berjumpa di halte itu, itu adalah saat pertama kamu menemukanku. Bukan saat pertama aku menemukanmu. Jauh sebelumnya aku sudah mengenalmu. Ray itu teman kerjaku dan meski bukan kawan akrab, aku tahu banyak tentang dia. Termasuk tentang pacarnya. Kamu.”

Sejenak kamu menoleh ke arahku dan menemukan wajahku mematung.

“Ingat saat kamu datang ke kantor Ray dengan baju hijau bertulis Go Green? Itu pertama kali aku melihatmu dan sejak itu ingin terus melihatmu. Aku sering kali merasa cemburu dengan Ray karna punya pacar seperti kamu. Tapi anehnya, aku selalu berharap dia cerita tentang kamu di saat makan siang, atau mengharap mendengar dia tengah bertelepon denganmu. Aku ingin tahu secuil apapun tentangmu.”

“Ternyata kamu sudah mengenalku 4 tahun yang lalu,” aku melirikmu.

“Dan ketika dia menduakanmu, aku tidak tahu kenapa aku merasa sedih sekali. Tiap hari aku saksikan dia bersama gadis itu di kantor dan sorenya kamu datang dengan wajah ceria. Betapa aku ingin menghentikan perbuatannya. Betapa aku ingin menemuimu dan membongkar penghianatannya. Tapi aku sadar aku tidak punya kuasa untuk itu. Aku bukan temanmu, yang mungkin bisa kujadikan alasan membongkar semuanya. Tapi nyatanya kamu bahkan belum pernah melihatku.”

Kamu berdiri , berjalan ke depan dan memperhatikan ujung jalan. Sementara aku tetap diam, dengan perasaan yang tak karuan. Menit berikutnya kamu duduk kembali, melirikku sebelum melanjutkan cerita.

“Dan ketika siang itu kamu datang ke kantor dan menjumpai mereka berangkulan di lift, aku ikut merasakan gempa bumi yang kamu rasakan saat itu. Dan aku tidak tahu kekuatan apa yang datang menghasutku hingga aku nekad meninggalkan kantor hanya untuk mengikutimu. Aku melihat air matamu yang berjatuhan di sepanjang trotoar itu, Mio. Aku menyaksikanmu yang sesunggukan di halte, tapi tak ada yang bisa kulakukan. Kamu tidak mengenalku dan aku tidak punya alasan untuk mengenalkan diri padamu.”

“Sejauh itukah kamu mengetahuiku, Leon?" tanyaku tak percaya.

“Sejak itu aku selalu memperhatikanmu berjalan di dalam hujan. Sengaja membasahi seluruh tubuh agar kamu bisa memecahkan tangismu yang tak kunjung habis tanpa diketahui orang. Aku bisa merasakan semua yang kamu rasakan, Mio. Masih ingatkah kamu ketika aku merengkuhmu di sore kedua kita bertemu padahal kamu belum tahu namaku? Aku tidak tahu kenapa aku berani berbuat itu. Tapi mungkin karena tanpa setahumu aku sudah sangat mengenalmu.”

Kamu meraih tanganku dan membungkusnya dengan kedua telapak tanganmu.

“Jadi jangan pernah menanyakan apakah aku mencintaimu atau tidak. Ini sudah jauh melampaui arti kata cinta, Mio. Aku tidak tahu kenapa aku harus memasuki kehidupanmu. Tapi satu hal yang bisa kujawab pasti, aku tak ingin kehilanganmu.”

Aku terdiam. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dadaku, tapi tidak tahu perasaan apa saja itu.

"Mio"

"Mio"


Aku terkesiap dari lamunanku. Tiba-tiba saja aku menarik kedua bahumu agar bisa menghadap ke arahku. Kutatap matamu dalam-dalam dan,

“Menikahlah denganku, Leon”

Bibirmu tiba-tiba saja pucat. Dan kulihat kedua bola matamu dipenuhi genangan air mata. Lima detik berikutnya, air matamu jatuh persis ketika mulutmu bergerak.

“Aku sudah menikah sejak lima tahun lalu, Mio."

Duuarrrrrrr. Suara petir di langit menggelegar dengan tiba-tiba. Tapi ucapanmu yang justru lebih mengagetkanku. Mulutku menganga. Aku berdiri dan menatapmu pilu. Air mataku meluncur deras tak terkendali.

“Kamu jahat. Kamu menipuku,” suaraku bergetar hebat dan nafasku turun naik menahan goncangan bathin.

“Mio. Ini tidak seperti yang kamu kira. Aku tidak menipumu. Aku justru berusaha menipu perasaanku setiap saat tapi aku tak sanggup. Aku tidak tahu kenapa aku harus jatuh hati padamu sejak pertama kali melihatmu. Aku tidak pernah berniat menghianati istriku tapi aku juga tak kuasa dengan perasaan yang menimpaku. Aku tidak katakan aku mencintaimu karena yang kurasakan ini jauh melampaui cinta. Setiap malam, ketika tengah tidur di samping istriku, aku menatap wajahnya dan selalu mengutuki diriku dan menyesali kenapa aku harus melihatmu di sore itu. Harusnya kamu tidak datang saat itu. Harusnya aku tidak kerja di tempat itu. Harusnya kamu bukan pacarnya Ray. Bertahun tahun aku mencoba menghalaumu tapi aku tetap tak bisa. Kamu adalah bagian dari hidupku. Tapi apakah aku pantas mengatakan itu sementara aku sudah menjadi milik orang lain? Mio, tolong mengertilah.”

Aku masih berdiri , masih dengan nafas memburu, masih dengan air mata yang mengalir tak tertahankan.

“Lupakan aku,” kali ini suaraku hampir tidak terdengar lagi karena sudah terlalu parau. Kumasukkan kedua tangan di saku jeans,menutupi kepala dengan topi sweater yang basah dan berbalik meninggalkanmu.

“Mio… Mio….Jangan pergi, Mio. Aku tak bisa hidup tanpamu. Demi Tuhan, jangan lakukan ini, Mio. Mio. Miooo.”

Aku berjalan. Pada langkah pertama jantungku terasa perih. Aku terus berjalan dan kurasakan hatiku mulai menggelepar , semakin lama semakin hebat. Tak kuasa, aku berlari semampu kakiku dan tangisku pecah. Sekuat mungkin kugenggam hatiku yang sekarat, diiringi cahaya kilat dan suara petir, ditemani hujan yang semakin dingin.
*******
Pukul dua nihari.

Titik titik hujan sudah tidak ada lagi. Kututup pintu kamar. Setelah beberapa musim berlalu, ini pertama kali hujan turun. Dan setiap titik titik hujan membawa nafas kerinduanku padamu. Musim yang berlalu ternyata tak juga mengurangi rasa cintaku padamu. Tetap utuh dan kokoh. Kumatikan lampu kamar dan tiba-tiba ponselku berbunyi. Kuraih dan satu pesan masuk. Jantungku seakan melompat keluar ketika membaca nomor yang masuk. Kutenangkan hati sebelum membuka isinya.

“Mio, ini hari pertama hujan sejak musim berganti. Malam ini aku melihat titik hujan di teras dan setiap titiknya membawa wajahmu. Aku merindukanmu, Mio. Sangat merindukanmu. Silakan kau adu cintaku dengan apapun, dia takkan terkalahkan"

Hatiku bergejolak, berdentum dentum oleh kerinduan yang maha dasyat. Tuhan, kenapa lelaki yang bernama Leon harus menjadi milik wanita lain. Apa mungkin aku menyelipkan diri di antara mereka? Tapi rasa cinta ini sungguh tak terkalahkan. Betapa rasa rindu ini sudah hendak mencapai titik didih. Ku raih ponsel, dengan tangan gemetar mencoba memilih tombol DELETE atau REPLY.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar