Duhai, penghuni hatiku
Bisakah kita bicara sejenak tanpa
menggunakan kata “tetapi”?
Bisakah kita obati saja borok kita ini tanpa
mempermasalahkan warna kulitnya?
Duhai, belahan jiwaku
kita tidak sedang duduk di laboratorium
membahas tentang sel darah merah yang berbentuk
permen cinnamon
mempelajari pigmen yang mewarnai tubuh kita
mempermasalahkan kenapa 99% eumelanin dan 1% feomelanin
ada di rambutmu,
sementara rambutku hanya dilapisi 67% eumelanin
Mari kita gunduli saja kepala kita
bila ikal dan lurus menjadi masalah bagimu
Mari kita congkel biji mata kita
jika sipit dan berkelopak begitu berbeda di matamu
bukankah itu lebih simpel dibanding blepharoplasty?
Duhai, kekasih jiwaku,
Mengapa selalu menghafalkan
“lain lubuk lain ikannya”
sementara aku merasa kita ada di lubuk yang sama
kita adalah belalang di padang yang sama
meski sayapmu kuning sayapku merah
bukankah kita sama justru karena kita berbeda?
Duhai, sandaran hatiku,
Andaipun kita dihasilkan dari sperma yang sama
makan dari plasenta yang sama
dan keluar dari kelamin yang sama
tak itu jaminan kita akan seia
Bisakah kamu pahami kini?
Bisakah kamu pecahkan saja tirai kacamu itu?
Kalau tak juga bisa
ambil saja tehmu
usahakan yang baru mendidih
dan siramlah aku
Mengenai Saya
Rabu, 03 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar